1000 HPK Langkah Penting Cegah Stunting

1000 HPK Langkah Penting Cegah Stunting

oleh: Wahyu Noviantari, S.Gz.

Nutrisionis

 

Stunting masih menjadi masalah kesehatan balita di Indonesia sampai dengan saat ini. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Anak yang beresiko stunting ditandai dengan tinggi badan yang pendek atau sangat pendek jika dibandingkan dengan umur anak (TB/U > - 2 SD ) di dalam grafik tinggi badan menurut umur anak. Dampak dari stunting tidak hanya pada tinggi badan yang kurang namun juga perkembangan intelektual, kognitif, motorik yang buruk dan bahkan mengurangi produktivitas sehingga menyebabkan kerugian ekonomi di masa depan. Maka dari itu, pencegahan terutama pada 1000 HPK sangat diperlukan. 1000 HPK dimulai pada masa kehamilan, menyusui (0-6 bulan), dan masa baduta (6-23 bulan).

1. Masa Kehamilan

Pada masa kehamilan, seorang ibu harus rutin melakukan pemeriksaan kehamilan rutin atau antenatal care (ANC) sebagai suatu cara mencegah terjadinya stunting. Ibu hamil disarankan untuk melakukan ANC minimal 6 kali selam kehamilan yaitu 1 kali pada Trimester Pertama, 2 kali pada Trimester Kedua, dan 3 kali pada Trimester Ketiga. Paling sedikit 2 kali pemeriksaan oleh dokter atau dokter spesialis kebidanan dan kandungan pada trimester pertama dan ketiga dengan memakai USG. Pemeriksaan rutin dilakukan dengan tujuan untuk memantau kesehatan ibu dan janin.

Kesehatan ibu hamil dipantau salah satunya dengan melakukan penimbangan berat badan ibu dan pengukuran lingkar lengan atas  (LiLA) secara berkala. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pemenuhan gizi ibu hamil dan janin. Ibu hamil dikatakan status gizi normal apabila LiLA minimal 23,5 cm. Ibu hamil dengan LiLA < 23>

Selain melakukan pemeriksaan rutin, selama kehamilan ibu perlu rutin minum tablet tambah darah (TTD) minimal 90 tablet selama kehamilan. Ibu hamil harus mengkonsumsi makankan yang sehat beranekaragam terdiri dari  sumber makanan pokok, sumber protein hewani, sumber protein nabati, buah dan sayur, minum air 8-12 gelas/hari (2-3 liter)/hari. Batasi penggunakan gula, garam, dan minyak dalam asupan makan sehari-hari.

2. Periode Menyusui (Bayi 0-6 Bulan)

Langkah pertama yang dilakukan pada masa menyusui adalah segera melakuakn IMD (Inisiasi Menyusu Dini) setelah bayi lahir.  Menyusui di awal kelahiran sangat bermanfaat karena bayi akan mendapatkan kolostrum yang sangat banyak manfaatnya untuk kesehatan bayi. Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama juga merupakan langkah penting untuk mencegah stunting karena dengan ASI eksklusif bayi akan mendapat asupan gizi yang maksimal. Selain itu, juga diberikan promosi mengenai pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan disertai pemantauan tumbuh kembang rutin setiap bulan sekali di posyandu. Sebagai upaya pencegahan penyakit, dianjurkan pula untuk pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi.

3. BADUTA (Bawah Dua Tahun) 6-23 Bulan

Intervensi gizi dilakukan dengan mendorong ibu untuk tetap memberikan ASI hingga anak berusia 23 bulan. Selain itu pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) sesuai standar setelah anak berusia 6 bulan juga merupakan langkah mencegah sunting. MP-ASI yang baik adalah yang mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak, dan mulai dikenalkan sayur dan buah dengan jumlah yang terbatas. Intervensi lain yang dilakukan untuk menjaga kesehatan baduta yaitu  dengan memberikan obat cacing, memberikan suplementasi zinc jika baduta diare, memberiknan suplementasi zat besi, imunisasi dasar dan lanjutan, pemberian suplementasi vitamin A (kapsul biru/merah) dan melakukan pemantauan pertumbuhan perkembangan rutin setiap bulan di posyandu.

 

Sumber : ayosehat.kemkes.go.id