DEPRESI. MEMAHAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
- oleh admin1
- 06 Juni 2026 10:21:58
- 24 views
DEPRESI. MEMAHAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
Oleh Rina Prasetyaningsih, A.Md.Keb.
Apa itu Depresi?
Depresi adalah kelainan suasana hati yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat terus-menerus. Depresi biasanya akan memengaruhi seseorang dalam berpikir dan berperilaku, serta dapat memicu berbagai masalah fisik maupun emosional.
Seseorang yang mengalami depresi, dapat mengalami masalah dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan tak jarang mereka merasa bahwa hidup sudah tidak ada gunanya lagi. Meski demikian, seseorang yang mengalami depresi bukan berarti sosok yang lemah. Sebab depresi merupakan suatu penyakit yang dapat disembuhkan.
Jika dibiarkan, depresi dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Misalnya gangguan kecemasan, gangguan panik atau fobia sosial. Orang yang menderita depresi cenderung terkucil secara sosial sehingga timbul keinginan untuk bunuh diri. Selain itu, mereka juga rentan menyakiti tubuhnya sendiri. Misalnya memotong anggota tubuh tertentu.
Depresi dapat bertambah buruk bila tidak diobati. Depresi yang tidak diobati dapat mengakibatkan masalah emosional, perilaku, dan masalah kesehatan yang dapat memengaruhi setiap segi kehidupan Anda, bahkan berujung pada kematian.
Penyebab
Hingga saat ini, belum diketahui dengan pasti apa penyebab depresi. Namun, penyakit ini dapat dipengaruhi dari berbagai faktor, seperti:
- Perubahan biologis. Orang-orang dengan depresi mengalami perubahan fisik di dalam otak mereka. Perubahan yang dimaksud belum dapat dijelaskan secara pasti.
- Ketidakstabilan reaksi kimiawi dalam otak. Dalam suatu penelitian ditemukan jika zat-zat kimia yang terdapat dalam otak mungkin berperan dalam terjadinya depresi. Perubahan dalam zat kimia otak tersebut akan mengakibatkan perubahan kestabilan mood dalam seseorang.
- Perubahan hormon. Perubahan dalam keseimbangan hormon di dalam tubuh dapat memicu terjadinya depresi. Perubahan hormon dapat terjadi saat kehamilan, selama beberapa minggu atau bulan setelah persalinan, akibat masalah tiroid, menopause, atau kondisi-kondisi yang lain.
- Keturunan Keluarga. Depresi lebih sering terjadi pada orang-orang yang dalam keluarga sedarahnya juga memiliki kondisi ini. Para peneliti saat ini masih berupaya untuk menemukan gen yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi.
Selain faktor-faktor di atas, beberapa faktor ini juga berpotensi meningkatkan resiko munculnya depresi pada seseorang.
- Mempunyai kepercayaan diri yang rendah dan terlalu bergantung pada orang lain, sering menyalahkan diri sendiri, dan pesimis.
- Mengalami kejadian yang traumatik atau menegangkan. Misalnya pelecehan seksual atau penyiksaan secara fisik, kematian atau kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang sulit dengan seseorang, atau masalah keuangan.
- Mengalami trauma masa kecil atau depresi yang mulai terjadi saat remaja atau anak-anak.
- Mempunyai identitas seksualitas berbeda seperti lesbi, homo, biseksual, atau transgender di dalam situasi yang tidak mendukung.
- Mempunyai gangguan mental lain, seperti gangguan cemas, gangguan makan, atau stres pasca trauma.
- Ketergantungan terhadap alkohol atau obat-obatan terlarang.
- Penyakit kronik atau penyakit serius, termasuk kanker, stroke, nyeri kronik, atau penyakit jantung.
- Sedang dalam pengobatan tertentu, seperti mengonsumsi beberapa obat hipertensi atau obat tidur. Beberapa ahli menemukan hubungan depresi dengan konsumsi obat-obatan kimiawi tertentu. Sebaiknnya bicarakan dengan dokter sebelum menghentikan pengobatan apapun.
Gejala
Gejala-gejala depresi terjadi minimal selama dua minggu. Beberapa penderita bisa menderita depresi yang cukup parah sehingga menganggu aktivitas sehari-harinya. Misalnya dalam pekerjaan, di sekolah, aktivitas sosial, atau dalam berinteraksi dengan orang lain. Sebagian penderita lainnya juga dapat merasa tidak bahagia tanpa tahu alasannya.
The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi ke-5 (DSM-5) adalah panduan yang banyak digunakan dalam mendiagnosis kelainan mental. Menurut panduan tersebut, penyakit depresi dapat diderita seseorang jika ia minimal mengalami 5 dari gejala-gejala berikut ini:
- Perasaan murung / tertekan hampir sepanjang hari, terutama di pagi hari
- Rasa lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari
- Perasaan tidak berguna atau bersalah hampir setiap hari
- Gangguan konsentrasi, ketidakyakinan
- Mengalami susah tidur atau bahkan tidur berlebihan
- Berkurangnya minat dan ketertarikan pada semua aktivitas
- Pikiran akan kematian atau keinginan bunuh diri yang muncul berulang kali
- Rasa gelisah atau menjadi lamban
- Penurunan atau kenaikan berat badan yang signifikan
Diagnosis
Selain konsultasi kepada dokter, untuk mendiagnosis depresi juga diperlukan evaluasi psikologis oleh psikiater. Anda akan diminta untuk menjawab dan mengisi beberapa pertanyaan yang termasuk dalam panduan menentukan depresi.
Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik apabila memang diperlukan. Depresi juga bisa diakibatkan karena efek samping penyakit tertentu.
Oleh sebab itu, dokter juga dapat melakukan tes laboratorium seperti pemeriksaan darah lengkap atau tes tiroid untuk mengetahui fungsi tiroid Anda.
Kata kunci dari depresi adalah suasana hati murung dan kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya Anda sukai. Untuk menetapkan diagnosis depresi, psikiater perlu memerhatikan tanda-tanda yang ada, setidaknya selama dua minggu.
Pencegahan
Belum ada cara yang pasti untuk mencegah depresi. Akan tetapi, Anda dapat melakukan hal-hal berikut ini yang mungkin dapat bermanfaat:
- Lakukan langkah-langkah pengendalian stres, untuk meningkatkan ketahanan dan kepercayaan diri Anda.
- Dekatkan diri dengan keluarga dan teman, terutama pada masa-masa yang berat, untuk menolong Anda melewatinya.
- Segera mencari pengobatan saat tanda depresi paling awal muncul, untuk menolong mencegah depresi bertambah berat.
Pertimbangkan untuk mendapatkan terapi pemeliharaan jangka panjang untuk mencegah gejala depresi muncul kembali.
Pesan kami, "Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Luangkan waktu untuk merawat pikiran dan perasaanmu." Jaga kesehatan mentalmu. Istirahat saat lelah, berbicara saat terbebani, dan hargai dirimu setiap hari." Jangan takut dan malu untuk datang berkonsultasi kepada sang Ahli. Salam Sehat …
Dikutip dari Klikdokter.com dan ayosehat.kemkes.go.id



